Selasa, 12 April 2016

tugas IBD _ Manusia Unggul di Indonesia

Manusia Unggul di Indonesia

            Manusia unggul adalah manusia yang memiliki sebuah kemajuan yang pesat dalam perkembangan dalam hidupnya. Lebih tinggi dan sucses di bandingkan dengan manusia lainya , mereka orang-orang yang sucses memenejemen hidup mereka dengan baik dan benar. Keunggulan mereka tidak semata-mata hanya keberuntungan atau kemajuan yang pesat yanf di tib=mmbulkan dengan dirinya saja , tapi memiliki pengaruh yang besar yang timbul dari lingkunganya, entah itu dari sisi kebiasaan, adat, tingakah laku dan sompan santun di lingkungan hidup mereka.
            Berikut saya akan memberikan contoh salah satu manusia unggul yang dimana mereka memiliki dampak dan pengaruh besar dari lingkungan hidupnya.
            Chairul Tanjung lahir di Jakarta pada tanggal 16 Juni 1962. Orang tua Chairul Tanjung bernama A.G Tanjung (Ayah) yang berketurunan Batak sedangkan ibunya bernama Halimah adalah orang Sunda tepatnya Sukabumi. Awalnya keluarga Chairul Tanjung adalah keluarga yang berlebih, ayahnya adalah seorang wartawan di jaman Presiden Soekarno dan juga menerbitkan majalah lokal. Namun kemudia saat era Soeharto, surat kabar dari ayah Chairul Tanjung dicurigai sebagai antek orde lama dan akhirnya dipaksa untuk tutup.
            Dan akhirnya keluarga mereka pun harus tinggal di sebuah losmen yang kecil dan sempit, tapi disinalh Chairul Tanjung terdidik dan berusaha untuk bangkit membawa nama baik keluarganya tersebut.walau keluarga mereka tidak memadai dalam segi dana, tapi orantua Chairul menginginkan anaknya sekolah setinggi mungkin.
            Lingkungan yang menekanya untuk lebih aktif dalam berbisnis karena uang saku yang dimilkinya tidak memadai , maka dari lingkungan tersebut beliau mulai membangun sebuah enterprenership way. Dia mulai membangun usaha kecil-kecilan seperti jualan baju dan fotocopyan . dan merembah kebisnis lainya. Setelah sarjanapun beliau tidak melanjutkan sesuai dengan gelar sarjananya tapi beliau maah merembah ke bidang bisnis yang diayominya dalam menunjang hidupnya. Dan diapun menjadi seorang pebisnis terkaya ketiga di Indonesia.
            Dari sini kita bisa pahami bahwa orang unggul si Indonesia bukan karena dia beruntung atau hoki, tapi karena budaya sekitar , lingkungan hidup, dan pendidikan yang dirasakan dalam hiupnyalah yang membangun seseorang menjadi lebih baik dan mencolok sebagai manusia unggul.


Kamis, 26 November 2015

guna karang taruna dimasyarakat

GUNA KARANG TARUNA DI MASYARAKAT
           
            Karang Taruna adalah organisasi kepemudaan di Indonesia. Karang Taruna merupakan wadah pengembangan generasi muda nonpartisan, yang tumbuh atas dasar kesadaran dan rasa tanggung jawab sosial dari, oleh dan untuk masyarakat khususnya generasi muda di wilayah Desa / Kelurahan atau komunitas sosial sederajat, yang terutama bergerak dibidang kesejahteraan sosial.

Sebagai organisasi sosial kepemudaan Karang Taruna merupakan wadah pembinaan dan pengembangan serta pemberdayaan dalam upaya mengembangkan kegiatan ekonomis produktif dengan pendayagunaan semua potensi yang tersedia dilingkungan baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang telah ada. Sebagai organisasi kepemudaan, Karang Taruna berpedoman pada Pedoman Dasar dan Pedoman Rumah Tangga dimana telah pula diatur tentang struktur penggurus dan masa jabatan dimasing-masing wilayah mulai dari Desa / Kelurahan sampai pada tingkat Nasional. Semua ini wujud dari pada regenerasi organisasi demi kelanjutan organisasi serta pembinaan anggota Karang Taruna baik dimasa sekarang maupun masa yang akan datang.

Selain sebagai pembantu masyrakat karang taruna juga dapat menjaga pergaulan masyrakat agar tidakk terjerumus di lobang hitam kehidupan para pemuda dan pemudi, oleh karena itu karang taruna harus tetap di awasi oleh para orang dewasa agar tetap kondusif dan baik jalan kehidupan para pemuda tersebut.

Fungsi Pokok Karang Taruna adalah:

1.      Penyelenggara usaha kesejahteraan social
2.      Penyelenggara pendidikan dan pelatihan masyarakat
3.      Penyelenggara pemberdayaan masyarakat
4.      Penyelenggaraan pengembangan jiwa kewirausahaan
5.      Pemberi pengertian, pemupukan dan pengembangan kesadaran tanggung jawab.
6.      Penumbuh dan pengembang semangat kebersamaan
7.      Pemupuk kreativitas generasi muda
8.      Penyelenggara rujukan, pandamping dan advokasi social
9.      Penguat sisitem jaringan komunikasi, kerjasama, informasi dan kemitraan
10.  Penyelenggara usaha-usaha pencegahan permsalahan social
  

Prinsip Dasar Karang Taruna adalah:
1.      Karang taruna adalah salah satu wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda
2.      Karang taruna dibentuk oleh masyarakat
3.      Karang taruna berada di desa/kelurahaan dan secara organisatoris berdiri sendiri
4.      Titik berat program karang taruna adalah pada bidang kesejahteraan social
5.      Seluruh generasi muda di desa/kelurahan adalah anggota/warga karang taruna
6.      Karang taruna menggunakan prinsip swadaya
7.      Kerjasama dengan organisasi kepemudaan lainnya adalah saling mengisi

Susanan organisasi:
1.       Ketua
2.       Wakil Ketua
3.       Sekretaris
4.       Wakil Sekretaris
5.       Bendahara
6.       Wakil Bendahara
7.       Bidang Pendidikan dan Pelatihan
8.       Bidang Usaha Kesejahteraan Sosial
9.       Bidang Kelompok Usaha Bersama
10.   Bidang Kerohanian dan Pembinaan Mental
11.   Bidang Olahraga dan Seni Budaya
12.   Bidang Lingkungan Hidup
13.  Bidang Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Kemitraan



PENERAPAN E–VOUTING DALAM PEMUNGUTAN SUARAPEMILU

PENERAPAN E–VOUTING
DALAM PEMUNGUTAN SUARAPEMILU

1.      PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di muka bumi ini, setiap harinya selalu timbul hal – hal baru yang mereka pecahkan untuk mendukung dan meningktakan kesempurnaan mereka dalam menjalani hidup seperti bekerja, bermain, istirahat,dll. Tapi itu tidak lah lepas dari tangan tuhan yang maha Esa yang telah meridhoi kita untuk hidup di bumi walau sebagian dari kita datang dan hiudup sebagai penghancur.

Salah satu contoh peningkatan taraf hidup manusia dan memeperudah hidupnya adalah , e-vouting dalam pemilihan umum yang berlangsung setiap kali ada pemilihan presiden ,gubernur, walikota dll. Ini adalah sebuah gagasan yang amat baik yang telah di kemukakan ke public sebagai system e-government yang membantu pemerintah dalam mengumpulkan hasil vouting.

Ini Salah satu gagasan yang muncul dalam memperbaiki permasalahan pemilu yaitu dengan memanfaatkan laju perkembangan teknologi yang semakin pesat. Perkembangan teknologi yang ada terkhusus dibidang elektronik dapat dimanfaatakan dalam sistem pemilu. Salah satu teknologi elektronik yang ditawarkan adalah Elektronik voting atau e-voting. Pelaksanaan e-Voting telah banyak dikembangkan dan diterapkan di beberapa Negara. Untuk di Indonesia sendiri sistem e-voting telah dicoba dikembangkan. Sistem e-voting yang coba di kembangkan di beberapa daerah di Indonesia sebatas mengganti kertas suara dengan teknologi elektronik yaitu berupa sebuah layar pemilihan, tetapi sistem administrasi nya masih berjalan secara konvensional yaitu masih menggunakan kartu pemilih, hingga surat undangan pemilih. Penelitian e-voting kali ini lebih difokuskan pada pengintegrasian dengan sistem e-KTP yang telah berlaku di Indonesia untuk mewujudkan pemilhan umum yang jujur dan adil.[1]

2.      RUMUSAN MASALAH
a.       Bagaimana system pemilu Indonesia yang telah kita ketahui sebelumnya?
b.      Bagai mana cara pengaplikasian e-vouting di kalangan masyarakat Indonesia?
c.       Bagai mana cara e-vouting meningktakan kepercayaan masyarakat dalam kejujuran pemilihanya?
3.      TUJUAN PENULISAN
a.       Untuk mengetahui system Indonesia sebelumnya.
b.      Untuk meneliti kepahaman warga Indonesia akan elektronik
c.       Untuk menjelaskan apakah manusia Indonesia sudah mulai modern atau tidak , dengan memulinya dengan kepercayaaan mereka terhadap e-vouting.





4.      ISI
Karena Pemilu menentukan masa depan suatu bangsa maka dalam pelaksanaanya juga terdapat asas – asas yang memuat prinsip pemilu. Asas ini meliputi langsung, umum, bebas, rahasia jujur, dan adil. Pemilu di Indonesia menganut asas “Luber” yang merupakan singkatan dari “Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia”. Asal “Luber” sudah ada sejak zaman Orde baru Langsung berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya secara langsung dan tidak boleh diwakilkan. Umum berarti pemilu dapat diikuti seluruh warga negara yang sudah memiliki hak menggunakan suara. Bebas berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa ada paksaan dari pihak manapun, kemudian Rahasia berarti suara yang diberikan oleh pemilih bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri.

Paragraf di atas menjelaskan bahwa pemilu Indonesia amantlah baik , karena memiliki asas yang baik pula, tapi yang di permaslahkan adalah bagai mana suara manusia Indonesia yang “luber” dalam memilih di sampaikan dan di hitung secara adil dan dapat dilihat oleh masyarakat secara real dan jujur. Tapi di Indonesia ini setiap pemilu ada saja kecurangan- ke curangan yang timbul di dalam pemungutan suara ini , maka hadirlah e vouting yang bisa membantu itu semua.

E-voting berasal dari kata electronic voting yang mengacu pada penggunaan teknologi informasi pada pelaksanaan pemungutan suara. Pengertian dari electronic voting (e-voting) secara umum adalah penggunaan teknologi komputer pada pelaksanaan voting, menjelaskan secara umum sejarah, jenis Electronic Voting, keuntungan dan kerugian dalam penggunaannya. Pilihan teknologi yang digunakan dalam implementasi dari e-Voting sangat bervariasi, seperti penggunaan smart card untuk otentikasi pemilih, penggunaan internet sebagai sistem pemungutan suara, penggunaan touch screen sebagai pengganti kartu suara, dan masih banyak variasi teknologi yang digunakan.

Maka jika saja masyarakat Indonesia paham dan mengerti apa yang di maksudkan dan bagai mana e – vouting di proseskan , berkulang lah sudah ke khawatiran kita pada ketakutan dalam kecurangan pemungutan suara ini , yang dimana kerapkali membuat perpechan dan demo besar-besaran di kalangan masyarakat terhadap pemerintahan . dan sosialisasi dalam pemilu dengan e vouting haruslah ada , agar masyarakat paham dengan hal itu .

5.      KESIMPULAN
Dari ulasan tentang evouting diatas kita dapat memahami bahwa sanya yang dilakukan dalam penerapan asas-asas dalam pemilu sudah baik , tapi tetap saja jika masih ada kecurangan dalam pemungutan suara itu amatlah menyedihkan , anggaplah seperti kita sudah mempercayakan barnag tapi mlah di bawa kabur oleh orang yang kit percayai , maka dosa besarlah ia.
Oleh karena itu muncullah e-vouting sebagai saran mengurangi kecurangan dan juga mengurangi meningkatnya dosa manusia penghuni pemerintahan di Indonesia. Dan memperkaya Indonesia dengan ilmu pengetahuan baru dan kemoderenan.
6.      PENUTUP
Sekain dari penulisan tugas karya ilmiah ini semoga adanya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat bernegara Indonesia ataupun tidak.



[1] Nurul Mutmainnah , universitas sultan hasanudin Makassar, 2015,  PENERAPAN SISTEM E-VOTING SEBAGAI UPAYA MEWUJUDKAN PENYELENGGARAAN PEMILU YANG JUJUR DAN ADIL .

Jumat, 13 Februari 2015



REKAYASA PERANGKAT LUNAK
Dalam pengerjaan suatu bangunan dikenal berbagai macam proses, demikian juga halnya dengan membangun perangkat lunak. Perbedaan proses yang digunakan dalam pembuatan akan menguraikan aktivitas-aktivitas proses dalam cara-cara yang berlainan. Perusahaan yang berbeda menggunakan proses yang berbeda untuk menghasilkan produk yang sama. Tipe produk yang berbeda mungkin dihasilkan oleh sebuah perusahaan dengan menggunakan proses yang berbeda. Namun beberapa proses lebih cocok dari lainnya untuk beberapa tipe aplikasi. Jika proses yang salah digunakan akan mengurangi kualitas kegunaan produk yang dikembangkan.

 Dan dalam aktivitas pengembangan perangkat lunak meliputi :
1. Persiapan Pengembangan
2. Analisis kebutuhan sistem
3. Perancangan sistem
4. Analisi kebutuhan perangkat lunak
5. Perancangan perangkat lunak
6. Implementasi perangkat lunak (coding)
7. Pengujian perangkat lunak
8. Integrasi perangkat lunak
9. Pengujian sistem
10. Penyerahan kepada pemakai (User Acceptance)

Proses pengembangan perangkat lunak (Software development process) adalah suatu struktur yang diterapkan pada pengembangan suatu produk perangkat lunak yang bertujuan untuk mengembangkan sistem dan memberikan panduan yang bertujuan untuk menyukseskan proyek pengembangan sistem melalui tahap demi tahap. Proses ini memiliki beberapa model yang masing-masing menjelaskan pendekatan terhadap berbagai tugas atau aktivitas yang terjadi selama proses. Contoh model proses pengembangan perangkat lunak antara lain adalah proses iteratif, Extreme Programming, serta proses air terjun (waterfall). Contohnya sebagai berikut:




1.WATErFALL:

 





                     
A.    Analisis kebutuhan(requirements definision)
Mempelaj arti perangkat lunak yang akan di buat  dan memahami masalah yang akan dibuat perangkat lunaknya, menetapkan arahan informasi, fungsi, perilaku, dan hasil kerja perangkat lunak untuk didefinisikan sebagai kebutuhan perangkat lunak.
B.     Perancangan(system and softwaredesign)
Transformasi setiap spesifikasi kebutuhan menjadi modul-modul perancangan yang lebih rinci sehingga menghasilkan model solusi dalam bentuk rancangan struktur data, arsitektur perangkat lunak, antar muka, dan prosedur-prosedur atau algoritma.
C.     Pengkodean(impelemntation)
Menerjemahkan model perancangan ke dalam bentuk yang dapat dimengerti oleh mesin (komputer) dengan menggunakan perangkat implementasi tertentu.
D.    Pengujian(system testing)
Memeriksa kebenaran logika internal dan fungsi perangkat lunak untuk menemukan kesalahan-kesalahan, dan memastikan bahwa perangkat lunak yang dihasilkan sesuai dengan kebut uhan yang sudah didefinisikan sebelumnya.
E.     Pengoperasian(Operation)
Penggunaan perangkat lunak oleh pemakai di lingkung an sebenarnya. Untuk men aga supaya perangkat lunak yang dioperasikan ini tetap berjalan sebagaimana mestinya, dilakukan proses pemeliharaan.

Kelebihan dimana model ini mudah di aplikasikan, Memberikan template tentang metode analisis, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliha-raan. Kekurangan Waterfall model Waterfall model bersifat kaku sehingga sulit untuk melakukan perubahan pada sistem perangkat lunak.Pemakaian Waterfall model Waterfall model digunakan untu pembuatan sistem perangkat lunak yang berukuran besardan pembuatannya secara terpisah.

2. PROTOTYPING MODEL







A.    Pengumpulan Kebutuhan dan perbaikan.
Pengembang bertemu dengan pemakai (pelanggan) untuk menentukan objektif perangkat lunak secara keseluruhan dan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang sudah diketahui.

B.     Perancangan cepat
Melakukan perancangan secara cepat dengan fokus pada hal-hal yang akan langsung terlihat oleh pemakai, seperti antarmuka pemakai dan fungsi-fungsi dasar.
C.      Membangun prototype
Model perancangan yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk membuat prototype pertama,yang mungkin berbentuk :
 Interactions prototype
Prototype perangkat lunak yang memungkinkan pemakai untuk memahami bagaimana berinteraksi dengan sistem perangkat lunak.
 Subset function prototype
Prototype perangkat lunak yang sudah dapat digunakan tetapi baru mengimplementasikan sebagian dari fungsi-fungsi yang diinginkan.

 Existing program

Program sebenarnya yang mengimplementasikan sebagian besar atau seluruh fungsionalitas yang dibutuhkan, tetapi masih ada hal-hal utama lainnya yang harus disempurnakan pada pengembangan berikutnya.
4) Evaluasi prototype

Menguji coba dan mengevaluasi prototype bersama-sama dengan pemakai untuk mendapatkan umpan balik yang dapat membantu pengembang memperbaiki prototype yang sudah dibuat, atau membangun prototypeyang baru.
5) Perbaikan prototype

Melakukan penambahan dan perbaikan-perbaikan terhadap prototype berdasarkan hasil evaluasi sampai diperoleh produk yang diinginkan.
Keuntungan Prototyping Model :
1) Menghemat waktu pengembangan.
2) Adanya komunikasi yang baik antara pengembang dan pelanggan.
3) Pengembang dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan pelanggan.
4) Penerapan menjadi lebih mudah karena pemakai mengetahui apa yang diharapkannya.
5) User dapat berpartisipasi aktif dalam pengembangan sistem.
6) Punya kemampuan menangkap requirement secara konkret daripada secara abstrak.
7) Untuk digunakan secara standalone.

Kekurangan Prototyping Model :
1) Pada prototype tentu saja banyak kebutuhan yang tidak di tampilkan seluruhnya karena data yang dikumpulkan hanya sebagian.
2) Prototype yang di setujui oleh client harus dikembangkan oleh developer tanpa ada data tambahan dari client dan software dari prototype harus memiliki fungsi yang lengkap.
3) Banyak ketidak sesuaian pada bentuk prototype.
4) Proses analisis dan perancangan terlalu singkat.
5) Walaupun pemakai melihat berbagai perbaikan dari setiap versi prototype, tetapi pemakai mungkin tidak menyadari bahwa versi tersebut dibuat tanpa memperhatikan kualitas dan pemeliharaan jangka panjang.
6) Pengembang kadang-kadang membuat kompromi implementasi dengan menggunakan sistem operasi yang tidak relevan dan algoritma yang tidak efisien.
7) Mengesampingkan alternatif pemecahan masalah.


8) Bisanya kurang fleksible dalam mengahadapi perubahan.
9) Prototype yang dihasilkan tidak selamanya mudah dirubah.

3. MODEL SPIRAL











Model proses perangkat lunak evolusioner yang mengadopsi pengulangan model prototyping dan pengendalian model linear sequential dengan tambahan elemen analisis resiko pada proses pengembangannya. Representasi model ini berbentuk spiral, dimana setiap pengulangan dinyatakan dengan suatu sirkuit yang melingkari 4 aktivitas utama:

1) Perencanaan
Mendefinisikan tujuan, kendala, sumber daya, waktu, dan informasi lain yang berhu-bungan dengan proyek.

2) Analsis resiko
Mengenali, menganalisis dan menilai resiko teknis dan manajemen.

3) Rekayasa
Membangun satu atau beberapa produk yang merepresentasikan aplikasi.

4) Evaluasi pemakai
Mendapatkan umpan balik dari pemakai berdasarkan hasil evaluasi produk yang direkayasa.
Kelebihan model Spiral :
Prescriptive Model Proses
Prescriptive model adalah model proses dasar yang dipakai seperti dengan aturan-aturan yang ditentukan agar dapat menghindari kesalahan dalam jadwal kegiatan kerja. Tetapi pada kenyataannya bahwa setiap proyek memiliki keadaan, situasi, dan kondisi yang berbeda dan akan sangat sulit jika hanya memiliki acuan terhadap aturan –aturan yang ditentukan sebelum proyek mulai dikerjakan.